Kursi bagi Tukang VS Pemikir Desain


Kata "Desain" sudah terdengar umum di kalangan masyarakat luas saat ini. Kalau kita tanya kepada seseorang yang awam "Desain itu apa?" jawaban mereka kebanyakan tidak jauh-jauh dari "Gambar" atau "rancangan" semacam baju atau hal umum lainya. saya pun tadinya berpikir begitu.
Kalau saya dikasih tugas "Buatlah desain kursi untuk balita" maka yang di pikiran saya saat itu, adalah membuat gambar rancangan kursi yang bentuknya lucu-lucu. entah tak kasih bunga-bunga, dibikin warna-warni, atau ada gambar donal bebeknya.
Tapi kata dosen saya sewaktu saya menghadiri salah satu mata kuliah di kampus, beliau berkata "Jika kalian membuat desain dengan patokan keindahan bentuk. kalian sama saja memproduksi sampah"
Saya agak kaget waktu mendengarnya. berati desain yang saya buat semuanya sampah. lantas yang di maksud desain itu apa?
Saya pikir beliau hanya bercanda untuk menguji mental kami. tapi ternyata beliau serius.

-Desain adalah penyelesaian masalah-

begitu katanya.
sebagai contoh, kalau kalian disuruh untuk membuat desain kursi untuk balita, maka kalian tidak hanya berpatok pada keindahan bentuknya saja. tapi juga memperhatikan seberapa tinggi anak balita itu? bagaimana bentuk kursi yang nyaman untuk balita? Dan tentu saja memperhitungkan faktor keamanan juga. kira-kira kalau balita adalah masa di mana anak-anak masih aktif-aktifnya. maka di buat kursi pendek, yang tidak mudah terguling supaya saat balita main di atasnya, mereka tidak mudah jatuh. baru menyelesaikan masalah bentuknya. kira-kira warna apa yang di sukai anak-anak? dan lain sebagainya
Itulah yang di maksud pemikir desain.
sampai sini saya hanya mangut-mangut saja. tapi, tak hanya sampai situ. beliau bertanya pada kami "Bagaimana anda semua membuat kursi itu?"
Saya jawab mudah saja. "Ya tinggal gambar desainnya dulu, baru cari kayu, kayunya diukur, digergaji, di paku, kemudian di poles"
Beliau menjawab "Berarti anda bekerja sebagai tukang desain, bukan pemikir desain"

saya jadi semakin triggerd. kok perasaan dari tadi salah mulu sih. lantas gimana dong supaya kita bisa jadi pemikir desain? bukan tukang.
Beliau menjawab lagi "Kalau saya yang di suruh bikin kursi itu, saya hanya akan menggambar desainya saja, kalau urusan memotong kayu segala macam, saya suruh orang lain yang melakukanya, saya hanya perlu memantau saja. Itulah yang dinamakan pemikir desain"

sampai situ saya hanya geleng-geleng saja. saya tidak paham apa yang beliau maksud. . kebetulan beliau menotice saya.

"Kalian besok kalau sudah lulus sebagai sarjana seni atau desain, jangan mau di suruh bikin kursi. sama orang lain. kalian yang harusnya mengkoordinasi orang lain untuk bikin kursi rancangan kalian. Tanpa sadar kita juga membantu orang lain untuk mendapat pekerjaan. jadi jangan pelit berbagi ilmu membuat kursi kalian kepada orang lain, yang memang tidak pernah dapat kesempatan untuk sekolah sampai tinggi. semakin banyak seniman yang menjadi seorang pemikir desain, semakin banyak juga peluang kerja untuk orang-orang. yang biasa kita sebut sebagai pengrajin"

Saya baru mudeng apa yang beliau maksudkan.

Lalu beliau lanjut bertanya lagi kepada kami.
"Terus bagaimana cara anda memproduksi kursi itu?"
Karena saya sudah merasa paham, saya jawab lagi dengan percaya diri "Nanti suruh mereka motong kayunya pake gergaji, dipaku pake palu, terus dicat pake kuas"
"Kalau begitu, nanti usahamu bakal "Mati"

Lah, lagi-lagi saya salah. saya sudah hampir kapok menjawab setiap pertanyaan dari beliau. nanti ujung-ujungnya disalahin lagi. kan sebel

"Jaman sekarang ini, semua orang bisa bikin kursi. dan, caranya sangat mudah. bisa pakai gergaji mesin otomatis, tinggal memasukan kayu yang masih kasar, tunggu beberapa detik sudah keluar jadi kayu balok yang rapih dan ukuranya bisa seragam. coba kalau anda masih pakai meteran untuk mengukur dulu, motong pakai gergaji, belum lagi di amplas. wah, modal dan tenagamu sia-sia. nanti kalah sama pengusaha lain yang sudah pakai mesin-mesin canggih. kalau mereka sehari bisa memproduksi 300 kursi, kamu pol-polan cuma bisa 10. nanti usahamu mati"

"Nah, bagaimana caranya supaya tidak mati? ya kita harus berekja kreatif dan inovatif. Kalau yang lain masih pakai mesin yang di masukan batang kayu kasar ke dalam pemotong kayu, keluar jadi balok kayu yang rapih, kita sudah membuat mesin yang di masukan batang kayu langsung keluar jadi kursi. jadi jika yang lain sehari hanya bisa membuat 300 kursi, kita bisa membuat 1000 kursi dalam sehari. itu yang dimaksud kreativ dan inovatif"

"Nah, kita jug tidak boleh menyimpan mesin itu untuk kita sendiri, ingat, ilmu itu harus di bagi-bagi. kita kenalkan mesin temuan kita ke semua orang. ilmu itu bukan milik kita, tapi milik semua orang. anda juga mendapat ilmu itu dari orang lain iya kan? kalau kita membagi ilmu ke semua orang, bukan hanya keuntungan yang kita dapatkan dari jualan mesin itu, tapi juga berkah untuk kita, karena kita sudah menyebarkan ilmu yang berguna"

Seketika saya kagum dengan cara berpikir beliau. terutama soal "jangan pelit ilmu"
Tapi, satu hal yang memganggu pikiran saya dari tadi. jadi saya tanyakan saja mumpung sisah waktu jam kuliah masih ada sedikit.
"Pak, kalau kita banyak-banyak memproduksi kursi, nanti tidak laku dong?"

"Nah, memang kalau barang semakin banyak di produksi, harganya akan semakin murah. dan daya jualnya semakin rendah. lalu apa yang kita lakukan? kita harus punya banyak pasar. kita harus bisa menjual di berbagai tempat. bukan hanya 1 tempat saja. nanti tidak laku. jaman sekarang sudah ada internet, kita  bisa dengan mudah tau kebutuhan masyarakat luas. toko online banyak. lalu apa lagi? kalau kita tidak mau mengikuti perkembangan jaman. kita akan "mati"

Beberapa menit kemudian, jam kuliah pun selesai. dari situ saya berpikiran lebih luas ke dunia luar. saya tidak akan menutup mata akan perubahan yang terjadi di jaman ini. saya sedikit mengurungkan niat untuk menjadi karyawan yang bekerja di kantor setiap hari selamanya. kini saya lebih bertekat untuk membangun usaha supaya memajukan desa dimana saya dilahirkan. walaupun mungkin untuk modal awal saya harus bekerja sebagai "tukang" dulu. tapi nantinya saya akan menjadi "pemikir" bukan "tukang" lagi.


Comments